Waiting of Love



Sepasang mata indah itu perlahan terbuka, disambut oleh hangat sinar mentari. Hembusan angin masuk ke sela- sela helaian rambut Kirana. Kirana Dewi Permata namanya. Seorang gadis yang cantik, tinggi, ramah. Setiap waktu yang dilaluinya terasa hampa, bagaikan hutan belantara yang sepi tak ada penghuninya. Bayangan seorang pria selalu saja memenuhi benaknya.
            “Kirana??” panggil seseorang membuatnya tersentak dari lamunannya.
            “Lo ngelamunin apaan sihh?” tanya Raina, sahabatnya sejak SMP.
            “Nggak papa kok, eh anterin gue ke perpus yok?” ucapnya asal.
            “Ogah ah. Mau ngapain? Tumben lo main ke perpus?” tanya Raina heran.
            “Ya mau cari buku lah, masa cari kucing?” jawab Kirana kesal, sambil meninggalkan sahabatnya.
“Iya juga ya?” pikir Raina.
Sesampainya di perpustakaan, matanya langsung mengarah ke rak buku bagian fiksi. Ia tertarik pada sebuah buku, ketika akan ia ambil secara bersamaan ditarik oleh seseorang dari balik rak. Yang ternyata ia adalah Fero Adhiratama. Seorang pria yang sejak kecil selalu bersama Kirana, tapi entah mengapa sekarang mereka merasa canggung satu sama lain. Mungkin karena Kirana memiliki rasa dengan Fero. Fero seorang pria tampan, cool dan sedikit cuek. Karena itu, dia sangat popular di kalangan para gadis di SMA Nusantara. Fero dan Kirana hanya terpaut usia 1 tahun. Kirana berumur 16 tahun sedangkan Fero berumur 17 tahun.
“Ehh ambil aja kak, nggak papa kok.” ucap Kirana canggung, sambil melepaskan bukunya.
“Ga usah, buat lo aja. Gue cari yang lain aja.” jawabnya dengan senyuman.
Entah mengapa, setiap senyum yang ia berikan selalu berhasil membuat Kirana tak berdaya dan melting seketika. Dan akhirnya, ia tinggalkan Fero diantara buku-buku yang tertata rapi disana.
***
Sesampainya di kelas, ia langsung di sambut oleh Raina yang sedari tadi menunggu kehadiran sahabatnya itu. Belum sempat duduk, Kirana sudah diwawancarai oleh Raina.
“Kenapa tuh pipi?” tanyanya protektif.
“Emang kenapa, pipi gue?” sambil melekatkan kedua tangannya disana.
“Pipi lo tuh udah kaya tomat, merah merona.” ucapnya meyakinkan. “Abis ketemu doi ya..??” tanyanya penasaran.
“Ihhh.. apaan sih lo,” jawab Kirana dengan nada dingin. Raina menatapnya dengan tatapan memohon. “Iya-iya gue cerita, tadi gue ketemu Fero di perpus,” kata Kirana akhirnya luluh dengan tatapan sahabatnya.
“Terus-terus gimana?” tanyanya penuh penasaran.
“Ya udah gitu doang.” jawab Kirana singkat. “Jangan-jangan lo suka ya sama Kak Fero?”
“Ihh apaan sih lo, mana mau Kak Fero sama gue..” ujar Raina sambil terkekeh.
“Mungkin aja bisa, kan nggak ada yang tau perasaan orang lain.” Katanya sambil menepuk pundak Raina. “Cinta nggak memilih tempatnya untuk tumbuh, Rain.”
“Lo selalu saja support gue, thank’s ya Ran.” Katanya sambil menatap wajah sahabatnya itu.
***
Ketika akan mengikuti olahraga, tiba-tiba seluruh siswa dikejutkan karena Raina pingsan. Lalu, ia dibawa oleh Kirana ke ruang UKS, wajahnya pucat pasi dan menampakkan sisi kepolosannya. Raina yang selama ini menampakkan sisi cerianya, kini tampak tak berdaya terbaring di tempat tidur.
“Lo nggak papa kan Rain?” tanya Kirana sewaktu dia siuman.
“Aduuh, kepala gue pusing.” Raina mengaduh sambil memegangi kepalanya.
 “Udah lo tiduran aja, lo mau apa, biar gue yang ambilin.” kata Kirana penuh perhatian.
“Makasih ya Ran, lo udah baik sama gue.” ucapnya dengan nada yang lembut.
***
            Karena jenuh dengan suasana kelas yang membosankan, Kirana mengajak Raina jalan-jalan mengelilingi sekolah. Ketika melewati lapangan basket, mereka mendapati Fero yang tengah asyik bermain basket dengan timnya.
“Bentar ya Rain, gue beli air mineral dulu. Lo tunggu disini aja, oke?” ucap Kirana sambil berjalan meninggalkan Raina, yang sedari tadi masih nontonin tim basket bermain. Tak ada jawaban dari Raina.
Brukk...
Ketika Kirana berbalik badan untuk mengetahui asal dari suara itu. “Rainaaaa..” teriak Kirana, diiringi larian kecil menghampiri tubuh Raina yang terkapar disana.
“Rain, lo nggak papa kan?” tanya Fero panik sambil membopong tubuh Raina ke ruang UKS. Dan tak ada jawaban dari Raina. Kirana yang berjalan dibelakangnya terdiam seribu bahasa.
“Rain??” tanya Kirana lembut, ketika melihat Raina siuman.
“Lo nggak papa kan Rain?” tanya Fero panik. “Maafin gue ya Rain, gue nggak sengaja tadi.”
“Iya nggak papa kok Kak, santai aja.” jawab Raina lesu.
“Sebagai permohonan maafnya nanti kalo pulang gue anterin ya..” tawar Fero.
“Nggak usah Kak, nanti gue bisa pulang bareng Kirana naik angkot.” balas Raina.
“Udah jangan mikirin gue, nanti gue bisa pulang sendiri. Lo kan lagi sakit, udah lo nebeng aja sama Kak Fero.” sahut Kirana dengan senyuman.
“Beneran nih, nggak papa?” tanya Raina lagi.
“Iya, santai aja ah.” jawab Kirana santai.
“Ya udah, yuk Rain.” ajak Kak Fero. “Duluan ya, Ran..” ucapnya pada Raina, diikuti lambaian tangan Kirana.
            “Kenapa rasanya sakit begini ya?” ucapnya dalam hati, sambil memandangi punggung Kak Fero dan Raina yang semakin lama menghilang. Serasa ada yang membuat sesak pada dadanya.
***
Sejak insiden kemarin, Raina dan Kak Fero jadi lebih dekat dan akrab. Setiap hari mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Kedua insan tersebut tak merasa ada seorang yang terluka dibalik hubungannya itu.
Sebagai sahabat Kirana hanya bisa ikut senang atas hubungan Kak Fero dengan Raina. Ia tidak ingin mencekal mereka, ia takut bila ada permusuhan dalam persahabatannya. Padahal dalam hatinya menyisakan luka yang teramat dalam.
“Longlast ya Rain, sama Kak Fero.” ucap Kirana dengan ekspresi senang.
“Makasih ya Ran..” balas Raina.
 “Emang bener kata lo, cinta nggak milih tempatnya untuk tumbuh.” kata Raina lembut.  
Untuk mencegah perasaannya yang tumbuh semakin dalam pada Kak Fero, Kirana selalu saja menghindar setiap kali mereka bertemu. Ia hanya takut bila Kak Fero memberikan senyumnya lagi padanya, yang malah hanya meninggalkan luka. Luka di hati yang membekas dan sulit terobati.
***
Beberapa bulan telah berlalu, tanpa didampingi seorang yang yang sejak kecil dapat membuatnya nyaman didekatnya. Mencintai dalam diam memang lebih menyakitkan dari pada mencintai secara terang-terangan tanpa balasan. Itulah yang dirasakan oleh Kirana. Ia menjalani kehidupannya seperti biasa, hingga pada suatu saat ada seorang laki-laki yang menyatakan cinta padanya.
“Ran kamu mau nggak jadi pendamping hidupku?” tanya seorang pria sambil berlutut mengulurkan setangkai bunga mawar merah merekah. Tak ada 1 katapun yang terucap dari bibir mungil Kirana, selain hanya anggukan kepala yang mengisyaratkan iya.
“Mungkin hanya mencoba mencintai orang lain adalah kunci untuk obat patah hati.” pikir Kirana dalam hati.
Hari-harinya menjadi sedikit berwarna karena adanya Kak Dimas yang selalu ada untuknya, baik suka maupun duka. Ia sedikit lebih nyaman akan kehadiran Kak Dimas karena ada yang perhatian dan selalu mendukung dirinya. Walaupun perasaannya tidak sepenuhnya untuk Kak Dimas. Setidaknya ia merasakan kasih sayang yang lebih dari sekedar teman.
***
Ketika berjalan di koridor sekolah, ia disambut oleh pemandangan tak mengenakan dan menyesakkan dada. Disana terdapat Kak Fero yang tengah asyik mengobrol dengan teman perempuannya. Memang tak hanya perempuan saja, tapi juga ada Kak Dimas disana. Cowok yang kukenal dari sekian banyak teman Kak Fero dan kini yang menjadi tambatan hatiku.
“Heii, sendirian aja lo.” sambil menepuk punggung Kirana.
“Ehh Kak Dimas…” jawab Kirana sambil melemparkan senyuman padanya.
“Mau kemana? Kok sendirian?” tanyanya.
“Mau ke kelas Kak, lagian juga udah biasa sendiri.” jawab Kirana santai
            “Gue anterin ya?”
            “ Gak usah Kak, nanti ngrepotin.”
            “Udah nggak papa, gue juga sekalian mau ke kantin kok.”
            “Ya udah deh, dari pada jalan sendiri..” jawab Kirana pasrah.
            Tak sadar bahwa mereka telah diamati oleh Fero, yang sedari tadi hanya melihat mereka dari kejauhan.
            “Btw, sahabat lo kemana?” tanya Kak Dimas
            “Dia sakit, dia dirawat inap di RS. Husada.” jawab Kirana singkat.
            “Emang dia sakit apa?” tanyanya lagi.
“Nggak tau nanti baru mau njenguk, mau nganterin nggak?”
“Mau dongg, apa sih yang nggak buat kamu.” Candanya.
“Alay lo, Kak..” jawabnya sambil tertawa.
***
Sesampainya di rumah sakit, ia mendapati Kak Fero yang sudah sedari tadi menunggu Raina. Ia tampak sangat khawatir pada Raina. Kirana yang memandangnya hanya dapat merasakan nyeri di hatinya.
“Rain, lo udah siuman? Lo baik-baik ajakan Rain?” tanya Kak Fero sambil memegangi tangan Raina.
“Iya.” jawab Raina singkat.
“Gimana Rain, kabar lo?” tanya Kirana.
“Gue baik kok, Ran.”
“Ya udah cepat sembuh ya, jangan sakit-sakit mulu, ntar nggak ada yang perhatian lagi sama Kak Fero. Yaa kan, Kak?
“Ihh bisa aja deh, jangan lebay.” balas Raina, disertai senyuman manis Kak Fero untuk Raina.
“Ya benar, senyuman itu kini hanya dapat dimiliki oleh Raina.” kata Kirana dalam hati.
***
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, keadaan Raina semakin hari semakin memburuk. Dan dokter berkata bahwa nyawa Raina tidak dapat tertolong lagi, sampai akhirnya Raina menghembuskan nafas terakhirnya.
 Semua siswa dan guru SMA Nusantara melayat di kediaman Raina. Mereka tak menyangka bahwa Raina mengindap kanker otak. Padahal yang mereka tahu Raina adalah cewek yang ceria, ramah dan pintar.
Ketika semua orang yang melayat telah pergi, kini hanya tersisa Kirana, Kak Fero, dan Kak Dimas didepan makam Raina yang masih basah tanahnya.
“Kenapa lo tinggalin gue Rain?” tanya Kak Fero dengan isak tangis dan memegangi batu nisan Raina.
“Udah Kak, kita pulang aja.. Biarin Raina tenang disana.” kata Kirana pada Kak Fero.
“ Iya sob, kita pulang aja. Udah 30 menit lo nungguin disini.” kata Kak Dimas.
Kak Fero terdiam. Dia hanya meninggalkan rangkaian bunga, dan berjalan meninggalkan makam kekasihnya dengan langkah gontai.
Saat tiba di kediaman Raina, Kirana diberikan sebuah buku dairy milik Raina oleh Ibu Raina.
“Ini apa, Bu?” tanya Kirana lembut.
“Ini ada titipan dari Raina, dia minta untuk memberikan ini pada kamu disaat yang tepat. Ia sempat menulis sesuatu di buku ini sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya. Mungkin ia ingin kamu membaca apa yang ia tulis disitu.” jelas Ibu Raina.
“Makasih, Bu. Biar nanti saya baca di rumah.” jawab Kirana sopan.
***
Teeettt… teeeettt….. teeetttttt… Suara bel sekolah sudah terdengar menandakan jam pulang sekolah.
Brruukk.. Suara buku yang terjatuh dari tas Kirana.
“Raann, buku lo jatuh nih..” teriak Sarah, teman sekelas Kirana. “Yah malah udah cabut.” gerutunya.
“Eh Kak Dimas, nih gue titip buku Kirana, tadi jutuh dari tasnya.” kata Sarah, ketika bertemu Kak Dimas.
“Ohh ya, nanti gue kasihin ke Kirana.” jawab Kak Dimas.
“Oke, thank’s Kak.” kata Sarah mengakiri perbicaraannya dengan Kak Dimas.
“Buku apa sih ini?” gumamnya sendiri.
Karena rasa ingin tahunya, Dimas tidak segan-segan untuk membuka buku tesebut. Dan ternyata di dalamnya terselip catatatan harian kecil milik Kirana. Ketika Dimas membaca buku tersebut, ia menemukan satu halaman yang membuatnya terkejut.
Raina
Gue sebenarnya udah tahu Ran, kalo lo itu suka sama Kak Fero. Dan gue tahu, kalo peraaasaan Kak Fero itu buat lo. Tapi lo memang sahabat terbaik yang kupunya, lo lebih mentingin gue dari pada perasaan lo. Thank’s Ran. Gue harap lo bisa jaga Kak Fero yaa...
21 Juli 2016
            Matanya memanas, hatinya seketika rapuh. Mengingat seseorang yang dicintainya tak mencintainya,terlebih ketika ia tahu Kirana selama ini menyimpan perasaannya pada Fero yang tak disadarinya. Rahangnya mengeras, seketika ia melajukan motornya dengan kecepatan penuh dan mengejar Fero yang sudah sedari tadi pergi meninggalkan sekolah. Ketika di jalan seseorang yang ia cari berada di depannya yang terjebak di lampu merah. Dimas mengintrupsikan agar Fero mengikutinya. Mereka melawati jalan yang biasanya dilewatinya ketika akan pulang kerumah mereka. Mereka berhenti di sebuah taman yang sepi dekat perumahan mereka.
            “Turun!” Dimas menarik kerah baju Fero. “TURUN GUE BILANG!!!” bentak Dimas penuh emosi.
            Fero menurut. Ia meletakkan helm dan turun dari motor. Tanpa aba-aba Dimas langsung mendaratkan pukulan ke wajah tampan Fero.
            “Lo kenapa sih, Dim?” tanya Fero bingung.
            “PUAS LO, SELAMA INI BUAT KIRANA SEDIH? BAHKAN NAGIS? PUAS?” disertai pukulan yang mendarat di perut Fero dan membuatnya tersungkur ke tanah.
            “Maksud lo apa sih, Dim?” ucap Fero dengan nada tinggi.
            “LO ITU BEGO’ ATAU TOLOL SIH FER?” teriak Dimas. “Kirana itu selama ini suka sama lo. Dia selama ini nyembunyiiin perasaannya sama lo. Karena dia takut, lo ninggalin dia. Dan pada akhirnya lo berhasil ninggalin dia dan jadian sama Raina ‘sahabat’ Kirana. Apa lo tau gimana perasaannnya ketika lo pacaran sama Raina? Dia berusaha mati-matian nyembunyiin perasaanya yang udah lo patahin berkali-kali. Dan pada akhirnya dia nerima gue jadi pacarnya hanya untuk pelariannya aja.” jelas Dimas dengan tersenyum sinis. “APA LO TAU ITU SEMUA?” teriak Dimas lagi penuh amarah yang meluap-luap.
            Seketika lututnya melemas, sesuatu dimatanya merangsek keluar detik itu juga.
            “Tapi apa lo tau, alasan gue kenapa ngejauhin Kirana dan bersikap dingin padanya? Gue Cuma ingin dia bergaul dengan orang lain, bukan hanya gue. Dan dia ternyata berhasilkan narik hati lo?”  jelas Fero.
            “Hebat juga lo, udah ngeerencanain ini semua.” kata Dimas dingin. “Tapi asal lo tau, ini tak semudah yang lo pikir, Fer. Dia tetep cinta sama lo, dan asal lo tau dia nerima gue buat jadi pelariannya agar dia bisa sedikit demi sedikit lupain lo. Tapi, bukan itu nggak jadi masalah buat gue, karena menurut gue cinta tak harus saling memeliki. Tapi cinta adalah membiarkan mereka yang kita sayang bahagia walau tanpa kita.” tutur Dimas. “Dan intinya, gue ingin lo perjuangin cinta lo sama Kirana.” lanjut Dimas.
            “Lha terus lo gimana?” tanya Fero.
            “Udah jangan pikirin gue, gue mah slow aja. Ntar kalo jodoh juga ketemu sendiri.” jawab Dimas. “Oh iya, sorry ya bro tadi gue kasar sama lo. Abis kebawa pearsaan sih.” kata Dimas.
            “Iya, maafin gue juga ya, Dim.” ucap Fero. Dan mereka kini berjabat tangan tanda perdamaian dan menyadari kesalahan masing-masing. “Thank’s juga udah buat gue sadar akan ketulusan cinta Kirana.”
***

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top